| I have a dream.. Suatu saat akan terbit terang Yang menambah semarak warna cemerlang Langit jingga negeri swarna phraya Saat itu ada banyak canda tawa, Cerita cinta, retas pentas, lagu merdu, dan tari menari Semuanya menyatu, berpadu dalam euphoria Di batas senja yang merekah Tiada lagi haling-belalang Tiada lagi korup-korup Tiada lagi tikus-tikus Yang selama ini menggorogoti sampai mati, Mendesak sampai sesak Mengikis sampai tipis Sungguh, sampah-sampah telah terkubur Dalam sumpah serapah dan petuah I have a dream.. Suatu saat anak petani dan anak menteri Dapat saling merangkul dan bersiul sama ceria Pak direktur dan pak kondektur Dapat berdiri sama tinggi Dan bergerak sama hentak Mereka berlari menembus batas-batas Menggelindingkan bola-bola harapan, Untuk sebuah masa depan Merekatkan jari-jemari dan bersiap Untuk suatu terobosan Ya inilah kisah tentang memori hari depan Bukan tentang kemelaratan atau kehancuran.. Bukan pula tentang ratapan atau tangisan.. Tetapi tentang kesukaan dan kejayaan.. Sebuah kisah dari negeri nan jauh di timur Mereka menyebutnya Swarna Phraya Aku menyebutnya.. Indonesia Karya : Winda Silitonga (Ak'07) |
Jumat, 04 Juni 2010
I Have a dream
Senin, 17 Mei 2010
Hal Kegiatan Misi
Adapun rincian transaksi dana yang kami anggarkan adalah sebagai berikut:
Pemasukan
1. Sumbangan alumni Rp 600.000,-
2. Aksi mengamen Rp 300.000,-
3. KMK Rp 100.000,-
Total Rp 1.000.000,-
Pengeluaran
1. Bingkisan untuk anak jalanan berupa:
Buku isi 50 lembar
40 @ Rp 3.000,- Rp 120.000,-
Pulpen + pensil + penghapus
40 @ Rp 3.000,- Rp 120.000,-
Sabun
40 @ Rp 2.000,- Rp 80.000,-
Pasta gigi
40 @ Rp 3.000,- Rp 120.000,-
Sikat gigi
40 @ Rp 2.500,- Rp 100.000,-
Plastik pembungkus warna
40 @ Rp 1.500,- Rp 60.000,-
2. Kue (snack )
70 @ Rp 3.000,- Rp 210.000,-
3. Minuman
Aqua 2 kotak @ Rp 20.000,- Rp 40.000,-
4. Kotak pensil (pemenang games)
3 @ Rp 10.000,- Rp 30.000,-
5. Snack (pemenang games)
3 kelompok @ Rp 20.000,- Rp 60.000,-
6. Isolasi, double tape dan keperluan lain – lain Rp 30.000,-
7. Dana taktis Rp 30.000,-
Total Rp 1.000.000,-
Demikian rincian dana yang kami anggarkan. Kami sangat mengharapkan dukungan dari teman – teman serta para alumni baik dari segi dana maupun doa serta kehadiran teman – teman semua.
Untuk pengiriman bantuan dana dapat disampaikan melalui rekening BNI atas nama PRATIWI PRIMA EKASARI S dengan nomor rekening 0134430781 Bank BNI Cabang USU
Dan mohon konfirmasi ke nomor 081376367384.
Semoga apa yang kita rencanakan Tuhan izinkan dan dapat berjalan dengan semestinya.
Tuhan Yesus memberkati,
Tim Kerja
Campus Concern FE-USU
Minggu, 09 Mei 2010
BIOGRAFI YOHANES SURYA
Nama : Yohanes Surya
Lahir : Jakarta 6 November 1963
Isteri : Christina
Anak : Chrisanthy Rebecca Surya
Marie Felicia Surya
Marcia Ann Surya
Pendidikan
1968 – 1974 : SD Pulogadung Petang II Jakarta Timur
1974 – 1977 : SMPN 90 Jakarta
1977 – 1981 : SMAN 12 Jakarta
1981 – 1986 : Jurusan Fisika FMIPA‐UI dengan gelar Drs.
1988 – 1990 : Physics Dept. College of William and Mary, USA dengan gelar M.Sc.
1990 – 1994 : Physics Dept. College of William and Mary, USA dengan gelar Ph.D GPA 4.0
Pengalaman Kerja:
1986 ‐ 1988 Guru fisika SMAK 1 Pintu Air
1988 ‐ 1989 Teaching Assistant Physics Dept. College of William and Mary
1989 ‐ 1993 Research Assistant Physics Dept. College of William and Mary
Pemimpin pusat pelatihan Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI), Karawaci sejak
ikut Olimpiade Fisika Internasional
1994 Researcher/Postdoc Continous Electron Beam Accelerator Facilities.
1995 ‐ 1997 Peneliti Jurusan Fisika Universitas Indonesia
1998 ‐ 2003 International Center for Physics and Mathematics Univ. Pelita Harapan
2003 ‐ 2004 Dekan Fakultas Sains dan Matematika Univ. Pelita Harapan
2004 ‐ 2005 CEO The Mochtar Riady Center for Nanotechnology and Bioengineering
(The Mochtar Riady Institute)
2005 ‐ Dewan penyantun (majelis wali amanah) Sekolah Tinggi Assalamiyah Banten.
2005 ‐ Professor Fisika Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
2007 ‐ Rektor Universitas Multimedia Nusantara
52 Publikasi Ilmiah
64 Makalah yang diseminarkan
68 Artikel fisika di majalah dan koran
28 Judul buku
29 Prestasi yang membanggakan dan mengharumkan bangsa
Delapan kali menjadi dewan juri
Yohanes Surya, Membuka jalan bagi Indonesia meraih Nobel
Yohanes Surya lahir di Jakarta pada tanggal 6 November 1963. Ia mulai memperdalam fisika pada jurusan Fisika MIPA Universitas Indonesia hingga tahun 1986, mengajar di SMAK I Penabur Jakarta hingga tahun 1988 dan selanjutnya menempuh program master dan doktornya di College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat. Program masternya diselesaikan pada tahun 1990 dan program doktornya di tahun 1994 dengan predikat cum laude. Walaupun sudah punya Greencard (ijin tinggal dan bekerja di Amerika Serikat), Yohanes Surya pulang ke Indonesia dengan tujuan ingin mengharumkan nama Indonesia melalui olimpiade fisika (semboyannya waktu itu adalah “Go Get Gold”) serta mengembangkan fisika di Indonesia.
Pulang dari Amerika, disamping melatih dan memimpin Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI), Yohanes Surya menjadi pengajar dan peneliti pada program pasca sarjana UI untuk bidang fisika nuklir (tahun 1995 –1998). Dari tahun 1993 hingga 2007 siswa-siswa binaannya berhasil mengharumkan nama bangsa dengan menyabet 54 medali emas, 33 medali perak dan 42 medali perunggu dalam berbagai kompetisi Sains/Fisika Internasional. Pada tahun 2006, seorang siswa binaannya meraih predikat Absolute Winner (Juara Dunia) dalam International Physics Olympiad (IphO) XXXVII di Singapura.
Sejak 2000, Yohanes Surya banyak mengadakan pelatihan untuk guru-guru Fisika dan Matematika di hampir semua kota besar di Indonesia, di ibukota kabupaten/kotamadya, sampai ke desa-desa di seluruh pelosok Nusantara dari Sabang hingga Merauke, termasuk pesantren-pesantren. Untuk mewadahi pelatihan-pelatihan ini Yohanes Surya mendirikan Surya Institute. Surya Institute kini sedang membangun gedung TOFI center yang akan menjadi pusat pelatihan guru maupun siswa yang akan bertanding di berbagai kejuaraan sains/fisika. Ia juga pencetus istilah MESTAKUNG dan tiga hukum Mestakung, serta pencetus pembelajaran Gasing (Gampang, Asyik, Menyenangkan).
Selain sebagai penulis, Yohanes Surya juga sebagai narasumber berbagai program pengajaran Fisika melalui CD ROM untuk SD, SMP dan SMA. Ia juga ikut memproduksi berbagai program TV pendidikan diantaranya “Petualangan di Dunia Fantasi”, dan “Tralala-trilili” di RCTI. Di luar aktifitasnya di atas, Yohanes Surya berkiprah dalam berbagai organisasi internasional dengan menduduki posisi strategis Selama berkarir di bidang pengembangan fisika, Yohanes Surya pernah mendapatkan berbagai award/fellowship antara lain CEBAF/SURA award AS ’92-93 (salah satu mahasiswa terbaik dalam bidang fisika nuklir pada wilayah tenggara Amerika), penghargaan kreativitas 2005 dari Yayasan Pengembangan Kreativitas, anugerah Lencana Satya Wira Karya (2006) dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Pada tahun yang sama, ia terpilih sebagai wakil Indonesia dalam bidang pendidikan untuk bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush. Pada tahun 2007, beliau menulis buku "Mestakung: Rahasia Sukses Juara Dunia" yang mendapatkan penghargaan sebagai penulis Best Seller tercepat di Indonesia. Dan tahun 2008 mendapat award sebagai Pahlawan Masa Kini pilihan Modernisator dan majalah TEMPO
Yohanes Surya adalah guru besar fisika dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Ia pernah menjadi Dekan Fakultas Sains dan Matematika Universitas Pelita Harapan. Kepala Promosi dan Kerjasama Himpunan Fisika Indonesia (2001-2004), juri berbagai lomba sains/matematika (XL-com, L’oreal, UKI dsb), anggota Dewan Kurator Museum Iptek Taman Mini Indonesia Indah, salah satu founder The Mochtar Riady Institute, anggota Dewan Wali Amanah Sekolah Tinggi Islam Assalamiyah Banten dan kini Prof. Yohanes Surya menjabat sebagai Rektor Universitas Multimedia Nusantara (Kompas Gramedia Group) serta aktif mengkampanyekan Cinta Fisika (Bali Cinta Fisika, Kalbar Cinta Fisika dsb) diseluruh Indonesia.
"Bila Yohanes Pembatis mempersiapkan jalan bagi Yesus, maka Yohanes Surya membuka jalan bagi Indonesia meraih Nobel," katanya.
KISAH HIDUP JONATHAN PARAPAK
Perjuangan Untuk Mencapai Cita-cita
Masa kecil Jonathan Parapak banyak diwarnai kehidupan sekitar hutan di tempat tugas ayahnya, Kanaka’ Palinggi. Mulai dari ketika ia masih dalam kandungan ibunya, Ny. Sule Palinggi. Ketika itu ayahnya bertugas sebagai pegawai Jawatan Kehutanan di desa terpencil yang hanya mungkin dijangkau dengan berjalan kaki atau naik kuda yakni Desa Limbong, Rongkong, Kecamatan Salu Tallang, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Keluarga Kanaka' Palinggi, semula adalah pemeluk agama suku yang dalam bahasa Toraja disebut Alukta (Aluk Todolo). Kemudian keluarga itu memutuskan untuk masuk agama Kristen di Rongkong sebelum Limbong lahir. Limbong sendiri baru dibaptis pada 1949, dan diberi nama baptis Jonathan, yang dalam keluarga dipanggil Nathan.
Sekolah bagi Nathan, merupakan perjuangan berat karena jarak yang harus ditempuh, faktor ekonomi dan keamanan, baik di desa maupun sesudah pindah ke kota kecil Rantepao. Seusai jam sekolah ia giat menggembalakan kerbau, ikut bekerja di sawah, dan juga melaksanakan berbagai tugas dalam keluarga. Nathan mulai sekolah pada umur 7 tahun di Desa Ulusalu, kemudian pindah ke Desa La'bo'. Kemudian ke kota kecil Rantepao. Untuk sedikit meringankan beban ekonomi, jiwa wiraswastanya mulai muncul saat masih di SMP. Dalam skala amat kecil, ia berdagang ayam, pisang dan gula-gula (permen). Keadaan sekolah cukup memprihatinkan. Tidak ada guru tetap, semua adalah pengerahan tenaga mahasiswa (PTM), ruangan kelas dibentuk dari aula yang dipinjam. Nathan belajar di SMA di Rantepao sampai kelas II. Untuk kelas III, oleh kakak ipar ia diantar ke Makassar untuk menyelesaikan pelajaran di SMA Negeri Bawakaraeng. Selepas dari SMA, Nathan diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar. Pada waktu yang bersamaan ia mengikuti proses seleksi beasiswa Colombo Plan. Ternyata Nathan terpilih dan ia bersama beberapa mahasiswa lainnya berangkat ke Australia, November 1961. Nathan yang tidak pernah hidup dalam rumah yang diterangi listrik sampai pindah ke asrama di Makassar, memberanikan diri mengambil jurusan listrik arus lemah (telekomunikasi). Nathan menyelesaikan studinya tepat waktu dengan hasil yang cukup baik. Sehingga ia diterima melanjutkan studi pada strata II, Program Master of Engineering Science, yang diselesaikan tepat waktu pula.
Kembali ke Indonesia
Berbekal ilmu yang diperoleh di universitas dan pengalaman kerja di berbagai bidang, Nathan kembali ke Indonesia pada September 1969. Semula ia berharap untuk mengabdi di lingkungan Perumtel (PT Telkom waktu itu), namun akhirnya ia bergabung tahun itu juga dengan Indosat (PMA), anak perusahaan International Telegraph & Telephone (ITT). Sebuah perusahaan yang dibentuk atas kerjasama AS-RI di bidang telekomunikasi. Karirnya di lingkungan Indosat, dimulai dari bawah, menarik kabel, memelihara perangkat komunikasi, menginstalasi perangkat telekomunikasi, dan pimpinan proyek stasiun bumi, sistem komunikasi kabel laut. Hingga dalam waktu relatif singkat meningkat ke jajaran manajemen sampai ia menjadi pimpinan Indosat (PMA-ITT) pada usia yang masih sangat muda. Selama Indosat masih berada di lingkungan ITT dengan Kantor Pusat di New York, Parapak mendapat kesempatan belajar dan membuktikan bahwa ia bisa memimpin perusahaan yang berteknologi canggih, berskala intemasiona1. Ia ikut merintis pembangunan Sistem Komunikasi Kabel Laut ASEAN, Sistem Komunikasi Kabel Laut ke Timur Tengah, Eropa dan Australia. Ia segera mendapat kesempatan mewakili perusahaan di berbagai pertemuan dan konferensi internasional, seperti di International Telecommunication Union (ITU), di Intelsat (International Satellite System), Inmarsat (International Maritime Satellite System). Ia pun menjadi figur internasional yang diperhitungkan dan diundang sebagai pembicara di berbagai konferensi dan seminar. Tidak lama ia menduduki posisi puncak di Indosat (ITT), pada tahun 1980 pemerintah memutuskan untuk membeli seluruh saham Indosat. Keputusan Pemerintah Indonesia ini sangat mengejutkan ITT, karena kontraknya seharusnya sampai tahun 1989. Sebagai Pimpinan Puncak (Managing Director), Parapak menghadapi dilema, kepentingan nasional atau kelanjutan kontrak (perjanjian) yang sah. Parapak mengambil posisi bahwa kepentingan nasional, keputusan pemerintah harus didahulukan. Namun pembelian seyogianya dilaksanakan dengan dasar win-win agar citra bangsa tetap terpelihara. Parapak sangat terlibat dalam seluruh proses negosiasi yang akhirnya dapat mempengaruhi manajemen ITT untuk menerima keputusan Pemerintah. Parapak bekerja keras siang malam, antara Jakarta dan New York. Akhirnya dalam waktu singkat dicapai kesepakatan harga yang dinilai adil untuk kedua belah pihak.
Indosat Jadi BUMN
Pada akhir 1980, resmilah Indosat menjadi BUMN penyelenggara telekomunikasi internasional. Pada akhir kesepakatan antara ITT dan Pemerintah Indonesia, Parapak ditawari jabatan penting di ITT, dan pada waktu yang sama diminta oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk menjadi Direktur Utama Indosat (BUMN) yang pertama. Parapak tanpa ragu-ragu memilih untuk menjadi Dirut Indosat (BUMN), walaupun gaji dan remunerasi yang ditawarkan jauh lebih rendah. Di bawah kepemimpinannya, Indosat mengalami transformasi manajemen, kultur perusahaan, pengembangan sumber daya manusia. Indosat maju pesat dan mendapat perhatian para pengamat dan para ahli manajemen, telekomunikasi nasional dan internasional. Sehingga dalam waktu singkat Indosat menjadi salah satu BUMN terbaik di Indonesia dan berulangkali memperoleh penghargaan nasional dan intemasional. Di Indosat, masalah pendidikan dan latihan sangat diberi prioritas sehingga profesional muda pun, kalau dinilai siap, diberi tanggung jawab. Ia sendiri menjadi pimpinan puncak pada saat berumur 36 tahun. Di Depparpostel, ia gigih mendukung pembaruan, perluasan dan penyempurnaan pendidikan dan latihan. Ia ikut mendirikan Akademi Pariwisata di Medan dan Makassar. Ia menggagas program beasiswa untuk pendidikan telekomunikasi dan teknologi informasi.
Sekjen Depparpostel
Parapak menjadi pimpinan puncak di Indosat sampai tahun 1991, pada saat itu ia diminta oleh Pemerintah melalui Menteri Susilo Soedarman menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Depparpostel). Kembali Parapak tanpa ragu menerima tawaran tersebut wa1aupun gaji dan remunerasi sangat kecil dibanding apa yang diperoleh sebagai Dirut Indosat. Ia pun tidak mempersoa1kan golongan yang diberikan, hanya III D, walaupun diberi pangkat lokal IV D. Semua itu ia syukuri dan terima sebagai kesempatan untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Parapak menjadi Sekjen Depparpostel hampir 8 tahun, suatu periode yang cukup lama, mendampingi empat menteri, yaitu almarhum Susilo Soedarman, Joop Ave, A. Latief dan Marzuki Usman. Salah satu aspek yang selalu mendapat perhatian khusus Parapak adalah pengembangan sumber daya manusia. Tampaknya pengalaman pribadinya sangat berperan dalam memotivasinya untuk memajukan sebanyak mungkin anak bangsa.
Peran di Masyarakat
Parapak merupakan pendiri dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pelayanan Mahasiswa, Perkantas. Di bidang kegiatan dan pelayanan Gerejani, ia juga memrakarsai beberapa yayasan, antara lain ia adalah sa1ah satu pendiri dan Ketua Yayasan Damai Sejahtera untuk Pelayanan dan Kesaksian, Ketua Dewan Pembina Yayasan Pembaca Alkitab. Ia Ketua Dewan Penasihat PIKI (Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia), Ketua Dewan Penyantun STT Jakarta, Ketua Dewan Penyantun STT Rantepao.
Menikah dengan gadis dari Australia
Nathan tidak hanya berhasil menuntut ilmu di Negeri Kanguru, tapi ternyata juga akhirnya ia mempersunting gadis dari Australia. Menurut penuturannya, ia berkenalan dengan Anne Atkinson melalui persekutuan Kristen di Universitas Tasmania. Mereka bersama melayani sebagai pengurus di kampus dan dalam pelayanan lainnya. Bibit perkenalan di Australia itu berkembang menjadi cinta. Yaitu setelah beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1970, Anne bertugas sebagai sukarelawati ke Indonesia, dan menjadi dosen sastra Inggris di Universitas Padjadjaran Bandung. Akhirnya mereka menikah 4 Desember 1971, setelah Anne merasa dapat tinggal di Indonesia. Perkawinan itu dikaruniai tiga anak, semuanya perempuan, yaitu Esther, Lise, dan Kathryn. Semua anak sudah menikah.
Satu hal yang perlu digarisbawahi tentang Parapak, yakni kemampuannya mengatur waktu sehingga pelayanan, pertisipasi dan bahkan kepemimpinannya dalam berbagai organaisasi atau lembaga selalu maksimal. Itu sebabnya ia merasa heran kalau ada orang yang menolak pelayanan atau tugas dengan alasan sibuk. Ia memang telah membuktikan dirinya sebagai sosok yang mampu melakukan penatalayanan waktu yang diberikan Tuhan kepadanya secara bertanggung jawab.
Latar belakangnya sebagai orang desa yang akhirnya mengarungi dunia intemasional, tidak membuatnya lupa akan keakrabannya dengan alam, sesama maupun Tuhannya. Bahkan, semua pengalaman dan pemahaman itu membuatnya menjadi manusia yang berimbang. Ia mampu membangun sikap yang seimbang terhadap alam dan teknologi, terhadap sesama manusia dan terhadap Tuhan Allahnya.
